Surat Untuk Kidut

Teman dan sahabat bisa kita temukan dimana saja. Kelas mungkin adalah salah satu tempat yang mudah bagi kita untuk menemukan sesosok mahluk yang bernama teman. Rizky Auliarisya, awalnya adalah sosok yang tak begitu saya kenal. Hanya sebatas tau namanya saat kelas matrikulasi berlangsung. Ya, kelas matrikulasi, kelas yang berisi lebih dari 200-an orang. Hanya sesekali (mungkin) saya pernah barter senyum dengannya. Hingga akhirnya kami disatukan dalam sebuah keluarga bernama B20.



Sejak ada judul dalam keluarga kami itu, ada sebuah benang bernama keakraban yang mulai terajut. Benang itu kemudian menjadi kain persaudaraan yang mungkin tak pernah kami sadari sebelumnya. Saya mungkin hanya bisa men-desain sebingkai foto, mengusahakan sebuah video dan sepucuk surat untuk seorang Kiki, yang kami beri panggilan kesayangan Kidut. Hm… Tapi, foto, video dan surat itu takkan berarti apa-apa tanpa kehadiran saudara seperjuangan yang ada di B20.
Mungkin kebersamaan TPB itu hanyalah setahun lamanya. Namun, terlalu banyak cerita dan kenangan yang mungkin tak bisa ditemukan di fakultas maupun departemen.
Kembali ke sosok seorang Rizky Auliarisya, Kidut, dia sering sekali memanggil saya dengan sebutan “mbak-e”, dia juga yang sering memenuhi timeline akun twitter saya dengan obrolan seputar artis Korea kesayangannya, meski saya tak mengerti apa yang dia bicarakan. Saya hanya mampu membaca sejuta histeris yang tersirat dari apa yang ditulis.
Rumah Kidut pernah menjadi sasaran anak-anak B20 untuk berkumpul, makan bareng, nonton film bareng. Hah… Saya tidak akan pernah melupakan izin yang dia berikan untuk memegang sebuah SLR miliknya, kemudian dia pun merengek meminta untuk difoto.
Kepergiannya ke negeri Sakura, cukup membuat saya kehilangan sosoknya yang selalu ceria, tertawanya yang lepas, ekspresi wajahnya saat makanan pedas mampir ke mulutnya. Hah, rasanya terlalu banyak kenangan. Kidut, sosok yang saya temukan di tengah hirukpikuk infofair, sosok yang tiba-tiba saya peluk dan airmata saya mengalir. Sosok yang kala itu tidak sedang bersama Kicung, sehingga saya bisa menyalurkan kegalauan saya. Dan dia dengan begitu welcome-nya, memeluk saya, mengikhlaskan sebuah canda, tawa dan senyuman.



Malam ini saya mengharu biru, Ki. Melihat banyak orang menitipkan salam padamu lewat lembaran kertas HVS ini. Dua buah video pendek, dengan artis yang kau idamkan itu, semoga mengobati kerinduanmu akan sosok yang kau beri rasa.
Hati-hati di sana, jaga selalu nikmat iman, islam dan ihsan yang ada. Keep in touch!

-maulina.septiarie-




0 komentar:

Posting Komentar